Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup di tahun 2026 ini rasanya cepet banget? Baru aja hari Senin, tiba-tiba udah weekend lagi. Di sela-sela itu, pikiran kita dijejali sama banyak banget hal: mulai dari urusan kerjaan yang nggak ada habisnya, drama di sosial media, sampai ambisi kita buat ngejar target finansial atau belajar skill baru kayak coding atau investasi.

​Kita sering nyebut kondisi ini sebagai burnout. Dan solusi paling populer yang sering kita dengar adalah: "Gue butuh healing nih!"

​Akhirnya, kita pun berangkat. Ada yang milih staycation santai di daerah Ciwidey yang dingin, ada yang kulineran di Bandung, atau sekadar matiin notifikasi HP seharian. Emang sih, setelah pulang, badan berasa lebih seger. Tapi jujur deh, sering nggak sih baru aja masuk kantor di Senin pagi, rasa capek dan hampa itu balik lagi? Kayak ada yang kosong di dalem hati yang nggak bisa diisi cuma sama pemandangan hijau atau kopi enak.

​Nah, mungkin ini waktunya kita ngobrolin soal "Healing versi Langit" yang sering diingetin sama Habib Abdallah bin Ja’far Assegaf di Majelis Al-Jabha.

​Isra Mi’raj: Pelajaran Soal "Break" dari Dunia

​Beberapa waktu lalu, kita memperingati Isra Mi’raj. Biasanya kita cuma dengerin ceritanya sebagai perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit ketujuh. Tapi kalau kita bedah lebih dalem dengan bahasa sekarang, Isra Mi’raj itu adalah bentuk apresiasi dan healing terbaik yang Allah kasih buat Nabi.

​Waktu itu, Nabi lagi ada di fase terberat hidupnya (Tahun Kesedihan). Beliau kehilangan pelindung dan orang-orang tercinta. Lalu Allah "mengajaknya jalan-jalan" menembus batas ruang dan waktu. Pesannya apa buat kita? Saat dunia udah terlalu berisik dan menyakitkan, solusinya bukan cuma lari ke tempat lain di bumi, tapi "naik" ke atas. Menghadap Sang Pencipta.

​Habib Abdallah sering banget nekanin satu poin penting: "Shalat adalah Mi’raj-nya orang beriman."

​Bayangin shalat itu bukan sebagai beban atau kewajiban yang menggugurkan absen doang. Bayangin shalat itu sebagai High-Speed Connection ke pusat ketenangan semesta. Kalau HP kamu lowbat karena dipake seharian, kamu nggak akan bisa benerin performanya cuma dengan bersihin layarnya, kan? Kamu harus colokin ke charger. Nah, shalat itu adalah proses charging jiwa kita. Lima kali sehari kita dikasih kesempatan buat "log out" sebentar dari urusan dunia yang ribet, buat "log in" ke hadirat Allah.

​Kenapa Kita Butuh 'Roadmap' dan Guru?

​Selain soal shalat, satu hal yang lekat banget sama suasana di Meruya atau majelis-majelis habaib adalah peringatan Haul. Mungkin buat sebagian orang, Haul itu cuma acara kumpul-kumpul doa buat orang yang udah wafat. Tapi sebenernya, maknanya jauh lebih dalem dari itu.

​Di dunia profesional, kita tahu pentingnya punya mentor. Mau jago coding JavaScript? Cari mentor. Mau sukses main saham? Cari mentor. Kenapa? Biar kita nggak tersesat dan tahu roadmap yang bener.

​Hidup juga gitu. Para guru, para ulama, dan para kekasih Allah (waliyullah) yang kita peringati haulnya itu adalah "Google Maps" spiritual kita. Mereka udah lewat jalannya, mereka udah tahu belokannya, dan mereka udah sampai ke tujuan. Habib Abdallah mengingatkan kita kalau ilmu itu bukan cuma soal apa yang kita baca di buku atau tonton di YouTube. Ada yang namanya berkah.

​Berkah itu sesuatu yang nggak bisa dihitung pake matematika, tapi bisa dirasain. Pernah nggak ngerasa gaji nggak seberapa tapi cukup terus buat keluarga? Atau belajar sesuatu yang susah tapi tiba-tiba cepet paham? Itu namanya berkah. Dan berkah itu turunnya lewat jalur khidmat dan hormat kita sama guru. Menghadiri Haul atau majelis ilmu itu cara kita buat narik "kabel" koneksi biar kita kesetrum aliran berkah dari mereka.

​Gaya Hidup Modern yang Tetap Berkah

​Trus, gimana caranya kita aplikasiin ini di tengah kesibukan kita yang super padat? Apa kita harus ninggalin kerjaan dan diem di masjid terus? Ya nggak gitu juga.

​Habib Abdallah justru ngajarin kita buat bawa suasana majelis ke dalem keseharian kita. Caranya simpel tapi ngefek banget:

​Jadikan Shalat sebagai Prioritas, Bukan Sisa Waktu: Coba deh mulai sekarang, jadwal rapat atau jadwal main kita yang menyesuaikan waktu shalat, bukan sebaliknya. Rasain bedanya waktu kamu "nomer satuin" Allah, urusan kamu yang lain bakal "dinomer satuin" juga sama Allah.

​Basahin Lidah sama Sholawat: Lagi nunggu render video? Sholawat. Lagi kejebak macet di jalan layang Pasupati? Sholawat. Sholawat itu kayak buffer yang bikin hati kita nggak gampang emosi pas ngadepin keadaan.

​Jangan Putus Hubungan sama Guru: Sempetin hadir di majelis meskipun cuma sebulan sekali atau lewat live streaming. Dengerin nasihat mereka biar hati kita yang mulai mengeras karena urusan dunia bisa jadi lembut lagi.

​Kesimpulan: Healing yang Hakiki

​Teman-teman, dunia ini emang didesain buat bikin kita capek. Nggak akan ada habisnya kalau kita cuma ngejar kepuasan materi atau pengakuan orang lain. Self-healing yang paling keren bukan pas kita berhasil posting foto estetik di tempat wisata, tapi pas kita bisa ngerasain tenang yang luar biasa justru saat kita lagi sujud di tengah malam.

​Kayak pesan Habib Abdallah, mari kita jaga hati, jaga akhlak, dan jaga hubungan kita sama para kekasih Allah. Karena di akhir hari nanti, yang bikin kita bertahan bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulin, tapi seberapa kuat ikatan kita sama Baginda Nabi Muhammad SAW.

​Jadi, kapan terakhir kali kamu bener-bener "ngobrol" sama Tuhanmu di atas sajadah tanpa mikirin cicilan atau kerjaan? Yuk, mumpung masih ada waktu, kita "Mi’raj-kan" lagi hati kita.